Kebijakan publik seringkali diputuskan tanpa melalui ruang diskusi yang bermakna. Publik terkaget-kaget dengan kebijakan ekonomi dan logika di belakangnya yang sulit dipahami. Komunikasi setelahnya lebih banyak menimbulkan pertanyaan tambahan ketimbang jawaban. Kondisi ini sudah berlangsung lama, dan perbedaan pandangan antara pengambil kebijakan dengan banyak ekonom semakin mengarah pada pengkutuban. Kebuntuan komunikasi justru menimbulkan akumulasi ekspektasi negatif, atau bahkan negative feedback loop: kritik yang tidak dibicarakan — apalagi sampai dilabeli negatif — justru membuat si pengkritik merasa ada banyak hal yang ditutupi, dan membentuk ekspektasi negatif bahkan lebih dalam lagi. Media sosial dan kehadiran pendengung (buzzer) membuat dinamika pengkutuban berjalan lebih cepat sekaligus dramatis.
Kebuntuan komunikasi sangat tidak sehat, bahkan berbahaya. Kami di SUR+ berusaha menjembataninya dengan membuka ruang diskusi publik yang terbuka, fair, dan konstruktif.
Ketika Kepercayaan Menjadi Taruhan
Di bidang ekonomi, ketiadaan check and balances, misalnya karena aransemen kelembagaan yang buruk untuk mengejar ambisi pertumbuhan, akan berujung pada ketidakseimbangan baik internal maupun eksternal, contohnya defisit fiskal dan neraca pembayaran. Dibutuhkan kebijakan publik yang prudent untuk mengembalikannya kepada keseimbangan, sayangnya kita belum bisa melihat langkah ke arah itu.
Kejadian jatuhnya harga saham hari ini karena harapan pasar atas transparansi tidak terpenuhi, menambah daftar panjang kebijakan publik yang jauh dari harapan. Mungkin di sini letak perbedaan mendasar kebijakan publik di bidang ekonomi dan sosial: pasar memiliki daya tawar yang jauh lebih kuat ketimbang masyarakat umum.
Ketidakseimbangan ekonomi bukan sekedar proses penyesuaian angka-angka makro kembali ke arah keseimbangan. Di pasar keuangan, proses penyesuaian pasar yang dilandasi masalah kepercayaan kepada pengambil kebijakan sering berlangsung secara menyakitkan (abrupt adjustment). Salah satu penggeraknya adalah unsur psikologi masa (behavioural economics) yang akan menggerakkan pelaku ekonomi secara bersama-sama, dan tentu destruktif, ke arah pemburukan ketika mereka memiliki ekspektasi negatif yang terus terakumulasi.
Banyak terminologi ekonomi yang menjelaskan fenomena ini.
- Self-fulfilling prophecy misalnya terjadi ketika sebagian besar masyarakat memiliki ekspektasi depresiasi Rupiah, lalu berbondong-bondong menukarkan Rupiahnya menjadi valas, dan pada saat itu ekspektasi depresiasi menjadi depresiasi itu sendiri.
- Race to the bottom juga mengatakan hal yang sama, yaitu sebuah even kepanikan bersama-sama yang justru semakin menghancurkan perekonomian dengan magnitude dan kecepatan tinggi.
- Sudden death bahkan lebih dramatis, yaitu krisis yang terjadi seperti serangan jantung di dunia keuangan yang basisnya adalah kepercayaan yang rapuh. Bank run, massive capital outflows adalah symptom umum "serangan jantung" jenis ini.
Kita pernah mengalami semuanya. Trauma itu bahkan menjadikan kondisi kerapuhan: "stroke" kedua bisa terjadi dengan pemicu yang lebih kecil sekaligus dampak kerusakan lebih besar.
Apakah Krisis Sudah di Depan Mata?
Lalu apakah ekonomi Indonesia akan segera mengalami krisis? Kami tidak berpandangan demikian. Hari ini masih banyak hal positif yang kita miliki. Tetapi mengabaikan kemungkinan krisis adalah langkah fatal. Kita justru harus membicarakannya saat ini.
Bagaimana mengurai semua persoalan ekonomi ini? Kita mulai lagi dari kondisi divergensi di atas yang terus melebar antara pemburukan ekonomi dan sekaligus kekhawatiran pasar versus respons Pemerintah yang tidak efektif, abai, atau bahkan merasa semuanya baik-baik saja.
Dua Sisi yang Kian Menjauh
Di satu sisi, kekhawatiran atas keberlangsungan ekonomi yang bermula dari persoalan fiskal terus meluas sampai kepada merosotnya kepercayaan di pasar modal, pasar uang dan obligasi. Lalu muncul persoalan manajemen bursa saham yang dianggap tidak transparan. Drama berlanjut, ancaman terhadap independensi bank sentral mengemuka baik melalui Undang-undang maupun dramatisasi penggantian pimpinannya. Berita penutupan pabrik dan PHK menambah keresahan di sektor riil.
Kepercayaan pasar bertambah buruk, capital outflows terjadi baik pada pelaku asing maupun domestik. Selama tidak ada perbaikan yang berarti, depresiasi Rupiah dan penurunan IHSG yang terjadi secara konsisten dalam kurun yang panjang masih akan berlanjut, berkebalikan dengan semua narasi positif yang dikeluarkan otoritas. Sementara itu di sektor riil, persoalan klasik seperti kepastian hukum, kemudahan berbisnis, ekonomi biaya tinggi karena pungli dan infrastruktur yang buruk, kelangkaan pasokan BBM dan membengkaknya biaya logistik terus berlangsung dengan intensitas menguat.
Di sisi yang lain, Pemerintah bersikeras bahwa ekonomi baik-baik saja, dan bahkan diproyeksikan akan terus mencapai pertumbuhan tinggi. Pemerintah, dengan optimismenya, mengusung model pembangunan baru seperti diskursus state capitalism yang tidak pernah jelas bentuk apalagi detailnya, dan terkesan anti pasar. Sikap abai (denial) dan jargon-jargon pendekatan ekonomi baru seolah membiarkan pemburukan yang terjadi. Hari ini kita menyaksikan kembali kekecewaan pasar yang diwakili MSCI meskipun otoritas berkata sebaliknya.
Divergensi antara kedua sisi itu terus melebar hingga sulit untuk melihat kemungkinan titik balik perbaikan ekonomi.
- Pemburukan ekonomi
- Ekspektasi negatif
- Respons kebijakan & komunikasi yang buruk
- Pemburukan ekspektasi
- ↻ kembali ke awal
Pemburukan ekonomi membentuk ekspektasi negatif, lalu respons kebijakan dan komunikasi yang buruk menambah pemburukan ekspektasi. Jika terus berlanjut, skenario negative feedback loop dapat muncul ke permukaan dan akan sulit untuk dihentikan. Skenario ini sangat terasa di sektor keuangan yang sensitif terhadap risiko dan dinamika pembentukan ekspektasi setelahnya.
Pemburukan di Sektor Riil
Meskipun tidak sedramatis di sektor keuangan, kondisi pemburukan di sektor riil juga semakin hari semakin terasa. Strategi pembangunan yang sangat mengandalkan peran pemerintah berisiko menghambat peran swasta yang menguasai 90 persen aktivitas ekonomi domestik.
Concentration risk terlihat pada perusahaan swasta besar yang hanya berjumlah 0,12 persen tapi menguasai 40 persen kegiatan usaha dan 55 persen kesempatan kerja. Sejumlah kecil perusahaan ini sangat sensitif terhadap risiko, dan dengan demikian fenomena capital outflows di sektor riil juga cukup besar.
Di pasar tenaga kerja, buruh dan pegawai lepas sulit mencari pekerjaan di sektor formal. Sementara itu sebagian golongan menengah mulai bergeser ke level bawah, dan pengusaha mengeluhkan iklim usaha dan turunnya daya beli.
Publik menamai semua persoalan itu dengan frasa sindiran "in this economy."
Lima Tulisan dalam Seri Ini
Bagaimana SUR+ melihat Indonesia "in this economy"? Bagaimana mengurai kebuntuan diskusi publik yang mengarah pada pengkutuban dan bahaya laten abrupt adjustment?
Mengidentifikasi Risiko, Bukan Meramalkan Krisis
Secara keseluruhan, rangkaian tulisan itu berusaha mengidentifikasi risiko, bukan meramalkan krisis. Kami meyakini bahwa banyak sekali bangunan ekonomi Indonesia hari ini yang lebih baik dibandingkan tahun 1997, menjelang krismon. Tapi kami menolak klaim bahwa semua baik-baik saja. Kami juga memperingatkan bahwa perilaku denial sangat berbahaya. Untuk itu, kami menyajikan sebuah policy scenario yang dalam pandangan kami sangat mungkin berkembang ke arah krisis, yaitu kemungkinan dolar mencapai Rp20.000 dan karenanya harus dihindari segera.
Divergensi seperti yang sudah disampaikan di awal tulisan harus dihilangkan. Jangan ada lagi sikap abai (denial), apalagi dengan argument normatif yang tidak relevan. Sebuah protokol crisis prevention harus dihidupkan dan jadi skenario utama yang mendasari setiap langkah perbaikan.
Kami menyarankan sebuah perbaikan menyeluruh, yang mendasar. Kami merekomendasikan sebuah paradigm shift.
"Kali Ini Berbeda"
Terakhir, kami mengingatkan bahwa krisis terus berulang, di banyak waktu dan di banyak tempat yang berbeda. Buku This Time is Different: Eight Centuries of Financial Folly karya Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff mengungkapkan fakta bahwa krisis keuangan sepanjang sejarah memiliki pola yang berulang akibat sikap abai bahwa "kali ini berbeda" dan dengan demikian risiko krisis dapat diabaikan. Kenyataannya, berdasarkan data selama delapan abad di banyak negara, ratusan krisis keuangan terus terjadi, dan sikap abai adalah salah satu symptom yang dominan.
To make a long story short, sebuah perubahan paradigma dalam memutuskan kebijakan publik harus hadir hari ini. We can't afford any crisis.
Selamat menikmati.